Pusdal LH Suma Gelar Aksi Bersih dan Bangun MCK di Pos 8 Gunung Bawakaraeng
- IdeNews | Arman Jaya -
- Kamis, 14 Mei 2026
Pusdal LH Suma Gelar Aksi Bersih dan Bangun MCK di Pos 8 Gunung Bawakaraeng
IdeNews.id | Gowa - Mendukung Gerakan Nasional Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah), Pusdal LH Sulawesi dan Maluku melakukan penuntasan pembangunan infrastruktur dasar di Camp Pos 8 Gunung Bawakaraeng. Inisiatif ini bertujuan untuk meminimalisir dampak kerusakan lingkungan di kawasan pendakian populer tersebut.
Dari jantung Sulawesi Selatan, Gunung Bawakaraeng berdiri kokoh bukan sekadar sebagai monumen geologis, melainkan sebagai rahim yang menghidupi jutaan jiwa di sekitarnya.
Namun, keindahan puncak yang sering disebut sebagai atap Sulawesi Selatan ini tengah menghadapi tantangan eksistensial yang besar. Sebagai respons terhadap degradasi lingkungan yang kian nyata, sebuah simfoni kolaborasi lintas sektor meletus dalam bentuk aksi nyata yang mengharukan.
Menyongsong Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun 2026, sebuah pergerakan besar bertajuk Gerakan Nasional Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) diwujudkan melalui "Korve Aksi Bersih serta Penyelesaian Pembangunan Langgar dan Sanitasi di Camp Pos 8 Gunung Bawakaraeng."
Kegiatan yang berlangsung pada Rabu-kami 13-14 Mei 2026 ini, sebuah upaya restorasi martabat alam yang diinisiasi oleh Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (Pusdal LH) Sulawesi dan Maluku.
Langkah ini menjadi representasi dari kesadaran kolektif bahwa Gunung Bawakaraeng adalah kawasan strategis dengan fungsi ekologis yang tak tergantikan.
[irp]
Sebagai daerah tangkapan air utama bagi Kabupaten Gowa dan Kota Makassar, setiap jengkal tanah di Bawakaraeng menentukan kualitas air yang mengalir di keran-keran rumah penduduk di hilir.
Ironisnya, popularitas Bawakaraeng sebagai destinasi pendakian favorit justru membawa beban tambahan: akumulasi sampah anorganik dan minimnya fasilitas dasar yang mengancam kemurnian sumber mata air.
Kondisi di Pos 8, salah satu titik kumpul paling krusial di jalur pendakian, selama ini cukup memprihatinkan. Area camp yang seharusnya menjadi tempat berkontemplasi dengan alam, kerap berubah menjadi hamparan limbah plastik.
Lebih dari itu, ketiadaan fasilitas sanitasi yang layak memaksa pendaki membuang hajat secara sembarangan, yang secara perlahan namun pasti meningkatkan risiko kontaminasi bakteri E.coli pada sumber air hulu.
Inilah yang mendasari Dr. Azri Rasul, SKM., MH., selaku Kepala Pusdal LH Sulawesi dan Maluku, untuk mencetuskan sebuah solusi permanen yang memadukan aksi kebersihan dengan pembangunan infrastruktur hijau.
Pagi itu, meski hujan mengguyur dengan intensitas yang cukup tinggi dan kabut tebal menyelimuti lereng, semangat 110 delegasi yang terdiri dari berbagai elemen tidak surut sedikit pun.
Dari pejabat pemerintah, personil TNI/Polri, aktivis NGO, hingga komunitas masyarakat lokal di Lembanna dan Bulu Ballea, semua bersatu dalam satu frekuensi yang sama. Medan yang licin dan udara dingin pegunungan justru menjadi pemacu adrenalin.
Mereka sadar bahwa menjaga kawasan hulu adalah investasi jangka panjang untuk keberlangsungan hidup generasi mendatang.
"Gunung Bawakaraeng bukan hanya destinasi pendakian, tetapi juga kawasan penyangga kehidupan," tegas Dr. Azri di sela-sela kegiatannya.
Salah satu pencapaian paling monumental dalam aksi ini adalah penyelesaian pembangunan fasilitas sanitasi dan langgar secara swadaya. Dr. Azri menjelaskan bahwa pembangunan ini dilakukan dengan perencanaan matang agar tahan terhadap kondisi alam yang ekstrem.
[irp]
Menggunakan sistem pengaliran air sejauh 120 meter dari sumber air alami menuju penampungan di area camp, fasilitas ini membebaskan pendaki dari keharusan menuruni tebing curam hanya untuk mendapatkan air bersih. Pipa elastis yang dirancang khusus digunakan agar tidak mudah rusak oleh injakan binatang hutan, sebuah detail kecil yang menunjukkan kedalaman pertimbangan ekologis dalam proyek ini.
Kehadiran Mandi, Cuci, Kakus (MCK) dan langgar (sarana ibadah) di ketinggian Pos 8 adalah sebuah terobosan. Ini bukan hanya soal kenyamanan fisik, melainkan bentuk pemuliaan terhadap alam.
Dengan adanya fasilitas ini, limbah manusia tidak lagi mencemari tanah secara liar, melainkan terkelola dalam sistem yang lebih sehat. Proyek ini ditargetkan tuntas sepenuhnya sebelum 5 Juni 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, sebagai kado bagi bumi Sulawesi.
Partisipasi dari sektor korporasi melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT. Vale, Pertamina, PLN, Pelindo, dan mitra lainnya, membuktikan bahwa sinergi pentahelix dapat mempercepat terwujudnya pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Sembari pembangunan fisik berjalan, aksi Korve atau kerja bakti massal menyisir setiap sudut Pos 8. Hasilnya sangat mengejutkan sekaligus menjadi tamparan bagi dunia pendakian kita. Dalam waktu singkat, tim berhasil mengumpulkan 389 kilogram sampah anorganik yang dikemas dalam 35 kantong besar.
Dominasi botol plastik dan bungkus makanan menunjukkan bahwa prinsip Leave No Trace (tidak meninggalkan jejak) masih sering diabaikan. Untuk memutus rantai polusi ini, panitia membagikan 250 tumbler edukatif kepada peserta dan pendaki sebagai simbol kampanye pengurangan plastik sekali pakai.
Pesannya jelas, bawa kembali sampahmu ke kaki gunung dan serahkan ke Bank Sampah Unit (BSU) yang telah dibentuk di wilayah Lembanna dan Bulu Ballea. Budaya responsible mountaineering harus menjadi identitas baru bagi setiap orang yang mengaku mencintai alam.
Kegiatan ini juga diwarnai dengan kehadiran jajaran pimpinan Pusdal LH Sulawesi dan Maluku, termasuk Kabidwil II Arnianah Alwi dan Kasubag Tata Usaha Rina Triany, yang terjun langsung memungut sampah.
Tak kalah inspiratif, peran aktif kaum perempuan yang dipimpin oleh drg. Sukreni Abdullah dari Dharma Wanita Pusdal LH Suma menunjukkan bahwa kepedulian lingkungan dimulai dari nilai-nilai keluarga.
Mereka membuktikan bahwa keberhasilan menjaga gunung adalah tanggung jawab kolektif, bukan sekadar tugas dinas lingkungan hidup semata.
Aksi bersih dan pembangunan infrastruktur hijau di Gunung Bawakaraeng ini diharapkan menjadi model atau blue print bagi kawasan konservasi lainnya di Indonesia. Ini adalah bukti bahwa ketika pemerintah, swasta, dan masyarakat bersinergi, tantangan seberat apa pun dapat diatasi.
Gerakan Nasional Indonesia ASRI tidak boleh berhenti pada seremoni pemotongan pita atau unggahan di media sosial. Ia harus meresap menjadi budaya mali,, malu jika tidak membawa sampah turun, malu jika merusak fasilitas, dan malu jika membiarkan alam menderita akibat egoisme pribadi.
Saat para peserta bergerak turun menuju Basecamp Lembanna, hujan mungkin telah menghapus jejak kaki mereka, namun dampak dari apa yang mereka bangun di Pos 8 akan menetap untuk waktu yang lama. Pembangunan sanitasi dan aksi bersih ini adalah sebuah pernyataan cinta kepada bumi.
Kita diingatkan kembali bahwa satu botol plastik yang dipungut, satu pohon yang dijaga, dan satu fasilitas sanitasi yang dirawat adalah satu napas tambahan bagi planet ini. Melalui semangat kolaborasi di Gunung Bawakaraeng, kita belajar bahwa menjaga hulu adalah cara kita menghargai hilir, dan menjaga alam adalah cara terbaik kita menjaga diri kita sendiri. Mari kita pastikan bahwa Bawakaraeng tetap menjadi rumah yang agung, sebuah ekosistem yang resik, dan warisan yang indah bagi anak cucu kita di masa depan.
